Jurnal Buruh TI

  • About
  • My Scripts
  • Archive
  • RSS
  • Takon Opo Wae

Hadiah Mobil 101

Baru saja mendapat sms dari nomor antah berantah:

Iseng dan pura - pura bodoh aja deh, buka tautan di sms tersebut : www.tribagibagihadiah.wordpress.com (Tri mana mungkin pakai blog gratisan dengan nama sedikit norak seperti ini).

Tampilan website seadanya:

Mencatut nama seorang direktur:

Komentar yang statis:

Penipuan makin marak terjadi. Makin pintar, makin cerdas caranya. Tapi sebenarnya tak cukup cerdas untuk mengelabuhi orang yang sedikitnya mengetahui serba - serbi teknologi informasi.

Mobil ndas mu njeblug!

    • #scam
    • #tri
    • #gsm
    • #kuis
  • 1 week ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Morgan Schneiderlin, Underrated Midfield

Tiga tahun yang lalu, saat itu saya lagi rajin - rajinnya main Football Manager. Teman seasrama saya juga rajin, sama rajinnya dengan saya. Saat itu, saya menggunakan Napoli. Bermodal Edinson Cavani berstatus pinjaman dengan opsi pembelian, Eziquel Lavezzi dan tentu saja, Marek Hamsik.

Saya sempat kebingungan mencari pengganti Walter Gargano jika cedera. Hingga teman memberikan rekomendasinya, Morgan Schneiderlin. Siapa Morgan? Pemain dari negeri antah berantahkah? Atau jangan - jangan auto generated player. Biasanya Football Manager suka begitu.

Pemain asal Perancis, bermain sejak tahun 2008 di Southampton. Saat itu, stats nya di Football Manager cukup menggiurkan saya. Saat itu usiannya baru 20 tahun dan berlabel wonder kid.

3 tahun kemudian, saya mendengar lagi kiprahnya bersama Soton. Southampton menjadi kuda hitam di EPL, terutama semenjak masuknya Pochettino di kursi manajer. Duet nya bersama Joe Cork di lini tengah Soton, memukau beberapa pundit.

Sesuai statistik Opta, Morgan Schneiderlin melakukan intersepsi sebanyak 5.44 per pertandingan. Mengungguli Sergio Busquet (1.63) , Arteta (2.69), Michael Carrick (2.17) dan Lucas Leiva (2.42). Total tackle per game nya mencapai 4.44, mengungguli 4 gelandang yang saya sebutkan tadi. Kecolongan bola hanya 7 kali, jauh lebih rendah ketimbang 4 gelandang tadi yang rata - rata mencapai belasan kali.

Morgan Schneiderlin bermain di belakang Cork, menjadi tumpuan lini tengah Soton ketika menerima serangan, dan memulai serangan. Morgan saat ini masih berumur 23 dan daya jelajahnya sudah cukup baik. Passing ratenya mencapai 83%, memang masih kalah dari Xavi yang mencapai 93%. Tapi Morgan punya potensi untuk mengembangkan skillnya.

Southampton memang gudangnya pemain berbakat. Mulai dari Theo Walcott, Gareth Bale, kini Morgan Schneiderlin.

    • #EPL
    • #morgan schneiderlin
    • #midfield
    • #underrated
  • 3 weeks ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Jangan Menggigit Manusia Lain, Kecuali Anda Bernama Luis Suarez

Nama Luis Suarez masih menjadi berita utama di berbagai media olahraga, lagi - lagi bukan karena kehebatan pria uruguay ini, namun karena kasus di lapangan. ya, Suarez menggigit lengan Ivanovic pada laga Liverpool kontra Chelsea yang berakhir imbang 2 - 2. 

Luis Suarez memang pria unik yang kebetulan bermain di Liverpool FC, klub yang saya puja setengah mati. Jika anda mencoba iseng googling soal kasus - kasus Luis, saya yakin, anda bisa membuat sinetron striping 3 season dengan daftar kasusnya.

Tanpa berusaha membela makhluk yang saya yakin masih keturunan penghisap darah ini, saya ingin menjelaskan bagaimana hebatnya Luis dan seberapa tergantungnya klub dari Merseyside itu bergantung pada pemain berdarah panas ini.

Luis Suarez punya skill individu yang jarang dimiliki penyerang lain, dribble dan penguasaan bola luar biasa. Insting predatornya di depan gawang sangat brilian, jika saya terdengar lebay, mohon dimaafkan, tapi biarlah statistik yang bicara.

Luis Suarez, sampai saat tulisan ini saya buat telah mencetak 23 gol. Terpaut 1 gol dengan Robin Van Persie di puncak top skor liga inggris. Dengan peformanya yang brilian itu, Luis telah menjadi tulang punggung Liverpool soal urusan menjaringkan bola ke dalam gawang. 

Jika statistik Opta tidak salah (heuheu), Luis punya statistik individual yang membanggakan. Luis menciptakan 143 tendangan ke gawang, 23 diantaranya berbuah manis, menit per gol nya 128 dan Goal Involvement sebanyak 44%, artinya jika anda menembak mati Luis di tengah lapangan, maka Liverpool akan otomatis kehilangan Goal Getter terbaiknya musim ini (bahkan mungkin satu-satunya).

Statistik tersebut lebih baik ketimbang para pesaingnya, RvP, Gareth Bale apalagi striker Chelsea yang lebih pantas disebut pensiunan ketimbang Buffon itu.

Nah, tak heran, salah satu Chairman PFA (lupa siapa namanya), mati - matian membela Suarez untuk tidak dicoret dari nominasi penghargaan PFA itu. 

Suarez brengsek? memang, tapi bagaimana dengan John Terry, Rio Ferdinand, Wayne Rooney ? Jika dibuat statistik tingkat kebrengsekan oleh Opta, saya yakin Suarez tak akan lebih brengsek ketimbang kapten Chelsea itu.

Diving? anda kira Ashley Young dan Nani tak lebih jago? 

Luis Suarez is Luis Suarez, he can do everything he want to do. You don’t need to respect him. He do well in field. 

Never bite other player, unless you are Luis Suarez

    • #suarez
    • #LFC
    • #luis suarez
  • 4 weeks ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Menuju Ka’bah at NongsaPura Ferry Terminal – View on Path.
Pop-upView Separately

Menuju Ka’bah at NongsaPura Ferry Terminal – View on Path.

  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Review Amatir : Lie To Me

Lie To Me, sebenarnya sebuah serial TV di kanal Fox, yang terakhir ditayangkan pada tahun 2011 (season 3). Serial ini mengisahkan kasus demi kasus yang ditangani oleh Ligthman Group yang dipimpin dr. Cal Ligthman dan dr. Gillian Foster, dibantu Eli Loker dan Ria Torres. 

Ligthman Group menerima “orderan” dari pihak lain untuk mendukung proses investigasi kasus, menggunakan keahlian di bidang psikologi, ekspresi mikro, bahasa tubuh dan Facial Action Coding System, untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

dr. Cal Ligthman sendiri diperankan oleh Tim Roth, artis britis yang cukup tenar dengan penampilannya sebagai tokoh antagonis di film Hulk, dan film klasik lain layaknya Reservoir Dogs.

Season pertama serial ini sangat luar biasa, boleh dibilang, season terbaik.  Tidak terlalu banyak menceritakan intrik antar tokoh, namun lebih fokus kepada teknik penggunaan ilmu pengetahuan yang dimiliki Cal Ligthman dalam investigasi berbagai kasus. Pada akhir season ini juga diceritakan kemunculan tokoh baru, seperti Ria Torres, seorang pembaca ekspresi natural (tanpa belajar) dan agen FBI Ben Reynolds yang dikhususkan bekerja di Ligthman Group.

Season 2 disajikan cukup berimbang antara intrik antar tokoh dan implementasi pengetahuan microexpression, body language dan Facial Code. Di season ini pula Emily Ligthman, anak perempuan Cal, muncul lebih sering dan sedikit mewarnai serial TV ini. Kehadiran Emily yang cukup intens di season 2 memberi nuansa keluarga yang cukup kental, lantaran usia Emily yang masih muda dan labil, serta ingin mencari pengalaman sex membuat ayahnya Cal (yang notabene mantan playboy) sangat resah.

Season 3 bisa jadi merupakan titik curam jatuhnya rating serial ini. Kekuatan cerita yang ingin menonjolkan intrik tokoh dan diselingi kasus-kasus, terlalu datar dan sangat mudah ditebak ujung ceritanya.

Pada season terakhir ini, Ligthman Group juga diceritakan tidak lagi bekerja sama dengan FBI. Ide ceritanya pun terlalu klise, sehingga tak ada bedanya menonton Lie To Me dengan serial kriminal lain macam CSI, Criminal Minds, atau Hawai Five O.

Usut punya usut rupanya Fox memang menghentikan penayangan Lie To Me pada season 3 karena kehilangan rating penonton. Menurut saya itu wajar, karena memang terjadi degradasi kualitas cerita dan plot pada season 3 ini. Dan memang tim scriptwriter pada season 3 ini jauh berbeda ketimbang season sebelumnya.

Namun secara keseluruhan, Lie To Me termasuk dalam serial favorit saya. Tema yang diangkat sangat khas, tentang teknik membaca wajah berdasarkan science dan kemampuan natural (Ria Torres).

Cerita pada Lie To Me diangkat dari seorang deception expert bernama Paul Ekman yang memimpin Ekman Group. Beberapa teknik yang digunakan berdasarkan ilmu pengetahuan dan beberapa diantaranya adalah fiksi.

    • #lietome
    • #lie to me
    • #serial
    • #fox
    • #series
    • #timroth
    • #tim roth
    • #cal
    • #ligthman
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Barelang bridge
Pop-upView Separately

Barelang bridge

    • #batam
    • #barelang
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
The real reason why we use Linux 
Source : https://plus.google.com/115227793065577297047 - Spencer Allen
Pop-upView Separately

The real reason why we use Linux 

Source : https://plus.google.com/115227793065577297047 - Spencer Allen

    • #linux
    • #opensource
  • 1 month ago
  • 4
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Oke then
Pop-upView Separately

Oke then

(via parislemon)

Source: anditslove

  • 1 month ago > anditslove
  • 68213
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
pretending to be death? #cat #pet
Pop-upView Separately

pretending to be death? #cat #pet

    • #pet
    • #cat
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
rasanya ajaib! #batam #cappucino (at Mall Top 100)
Pop-upView Separately

rasanya ajaib! #batam #cappucino (at Mall Top 100)

    • #cappucino
    • #batam
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Page 1 of 32
← Newer • Older →

About

catatan garing, renyah tak bertulang

Me, Elsewhere

  • @robeevanjava on Twitter
  • robeevanjava on Youtube
  • muridbintang on Flickr
  • robeevanjava on Foursquare
  • Google
  • Linkedin Profile
  • robeevanjava on github

Twitter

Instagram

loading tweets…

loading photos…

Top

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Takon Opo Wae
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union